Ironi Seorang Dokter

Profesi dokter di Indonesia dari dulu sampai sekarang masih dianggap profesi yang amat mulia,diidamkan,dan identik dengan kemakmuran.Seperti juga dalam khayalan saya ketika masih duduk di bangku SD,hingga kuliah difakultas kedokteran. Tapi tidak setelah saya menjadi dokter benaran. Banyak dokter yang saya temui,hidup dalamkesederhanaan,jauh dari kaya raya dan kecukupan.banyak dokter yang menjual harga diri demi rupiah.Melupakan janji hipocrates, melupakan kode etik,mematikan hati nurani,mengkhianati ilmu pengetahuan. Tidak heran kemudian begitu banyak muncul kasus malpraktek yang berakibat kematian,kecacatan,penderitaan pasien. Sungguh ini menodai kesucian dan kemuliaan profesi dokter.Karena tidak semua dokter berperilaku buruk seperti itu.
Munculnya undang-undang praktek kedokteran,juga berlatar hal di atas.undang-undang yang begitu memojokkan seorang dokter.sehingga timbul kesan bahwa profesi ini merupakan profesi profit,yang melulu mencari keuntungan materi"uang",sehingga jika ada kesalahan atau kelalaian juga harus dibayar dengan materi "uang" pula. Hampir disamakan dengan profesi notaris,pengacara,pedagang dll.

Bagaimana dengan dokter yang hidup sederhana,menjunjung tinggi nilai moral dan hati nurani,tidak mengutamakan imbalan? Sebagian besar dokter di negeri ini,masih menganut nilai-nilai tersebut. Entah itu sebagian atau sepenuhnya.
Untuk jasa medis yang nilainya kadang tak terukur, untuk menyelamatkan nyawa manusia seperti pembedahan,atau sekedar meringankan penderitaan pasien melalui obat-obatan, tarif dokter masih dianggap mahal. Apalagi jika itu menyangkut pelayanan kesehatan yang dilakukan di rumah sakit-rumah sakit swasta, klinik dan praktek dokter swasta. Anehnya jika mereka berobat ke luar negeri,mereka siap dengan biaya berapapun,tanpa protes atau mengeluh. Atau untuk anggaran yang lain bukan bidang kesehatan, misalnya untuk belanja pakaian, hiburan, hobi, ataupun pendidikan, tidak ada protes sehubungan dengan harga yang juga tidak logis atau malah fantastis.

1 Comment:

  1. dokter Anis said...
    Turut simpati dok.

    Salam.
    Anis

    Blog:
    Blog dr Anis
    Terapi Khelasi

Post a Comment